Pada Kamis (16/11) malam kemarin, perhatian publik kembali tersorot kepada Ketua DPR-RI, Setya Novanto alias Setnov. Tersangka korupsi mega proyek e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah itu mengalami kecelakaan tunggal saat hendak memenuhi panggilan KPK setelah beberapa kali mangkir hingga mendadak menghilang. Di tengah kekacauan, munculah pengacara Setnov yakni Fredrich Yunadi yang dianggap malah memperkeruh.

 

Sosok Fredrichsudah muncul saat KPK pertama kali menetapkan Setnov sebagai tersangka pada 17 Juli 2017, meskipun dirinya bisa bebas dari tudingan dengan misterius di praperadilan. Dan pada kasus kecelakaan Setnov kemarin, Fredrichmenjadi kelakar banyak orang karena berbagai pernyataan kontroversialnya. Di mana Fredrich sempat menyebut kalau mobil Toyota Fortuner yang dikendarai Setnov dalam kondisi hancur, rusak parah hingga adanya benjolan sebesar bakpao di kepala dan penuh darah Ketua Umum Partai Golkar itu.

 

Faktanya, mobil Setnov hanya mendapatkan kerusakan di bagian bumper depan dan bahkan ¾ bodi mobil masih mulus. Sementara benjolan bakpao sama sekali tak terlihat termasuk luka-luka memar di wajah lainnya. Tak heran kalau sosok Fredrich menjadi bahan lelucon di dunia maya. Bahkan saat publik mengkritisi perban dan infus Setnov yang janggal karena merupakan infus untuk bayi,Fredrich dengan santai berucap, “Ya boleh ajalah. Karena kan dia memang bayi. Dia tidur melulu, kagak pernah bangun.”

 

Penelusuran jejak karier Fredrich sebagai pengacara pun menguak fakta mengejutkan. Dilansir CNN Indonesia, Fredrich ternyata pernah mendaftar sebagai calon komisioner KPK pada tahun 2010. Saat seleksi calon pimpinan KPK periode 2010-2015, Fredrich lolos ke tahapan psikotes bersama 11 calon lainnya. Namun Fredrich gagal dan kemudian Busyro Muqqodas yang terpilih. Sudah jadi pengacara sejak tahun 1994, Fredrich pernah jadi kuasa hukum koruptor RJ Lino atas kasus dugaan korupsi Pelindo II.

 

Kritikan Ahli Hukum Untuk Fredrich Yunadi

 

Terbaru, Fredrich berencana melaporkan KPK ke pengadilan HAM internasional karena ikut serta dalam proses perawatan Setnov yang dipindahkan ke RSCM hari Jumat (17/11). Bahkan Fredrich menyebut kalau KPK tidak bisa memeriksa Setnov tanpa adanya izin Presiden Jokowi. Hal ini membuat ahli hukum pidana yakni Abdul Fickar Hadjar menuding Fredrichdengan dugaan melawan hukum.

 

Menurut Fickar, KPK yang harus meminta izin Presiden adalah hal yang melawan akal sehat karena soal izin itu gugur dengan Pasal 245 UU MD3 di mana ada pengecualian bagi tindak pidana khusus seperti korupsi, narkoba dan terorisme. Fickar juga menyindir Setnov yang dalam menghadapi proses hukum malah mengikuti nasihat pengacara, bukannya patuh pada hukum negara mengingat dirinya adalah pemimpin salah satu lembara tertinggi di Indonesia, seperti dilansir Detik.

 

Senada dengan Fickar, pakar hukum tata negara Prediksi bola yang juga mantan Ketua MK, Mahfud MD, malah menertawakan rencana Fredrich. Melalui cuitannya di Twitter, Mahfud menyebut bahwa pengadilan HAM internasional hanya akan mengadili Genosida dan kejahatan kemanusiaan, bukannya mengurusi kasus Setnov.

 

Tunggu Kesimpulan Dokter, Setnov Dibawa ke Rutan

 

Mengenai kondisi Setnov, rupanya sudah melakukan rangkaian pemeriksaaan MRI dan CT scan pada Jumat (17/11) malam.Untuk bisa menahan Setnov dan menggiringnya ke Rutan (Rumah Tahanan), KPK tinggal menunggu keputusan dokter. “Apakah masih dibutuhkan observasi dalam beberapa hari ke depan atau dapat dilakukan pemeriksaan dan penahanan lanjutan di rutan KPK, akan ditentukan kemudian,” jelas Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah hari Sabtu (18/11).