Palestina, Yerusalem, Israel dan Amerika akhir-akhir ini tengah mendapatkan sorotan yang lebih dari negara internasional. Sebanyak 128 negara dari seluruh dunia mendukung resolusi dari Majelis Umum PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) yang mana meminta Amerika Serikat untuk menarik kembali keputusannya yang mengakui secara sepihak Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Israel.

Mayoritas Mendukung Resolusi PBB

Seperti diberitakan oleh CNN Indonesia, hasil pemungutan suara yang digelar kemarin Kamis (21/12) di New York, AS, waktu setempat menunjukkan bahwasanya mayoritas negara mendukung keputusan resolusi PBB. Sebanyak 9 negara saja yang menentang resolusi tersebut dan 35 lainnya abstain di dalam voting tersebut.

Nabil Abu Rdainah, Jubir dari Presiden Palestina Mahmod Abbas mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik hasil dari pemubgpemungutan suara tersebut dan ia juga menyebutkan bahwa ini adalah sebuah kemenangan bagi mereka. “Pemungutan suara adalah suatu kemenangan bagi Palestina.”

Akan tetapi pihaknya juga akan terus berjuang di PBB untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan yang mana dilakukan oleh Israel. “Kami akan melanjutkan usaha kami di PBB. dan kami juga akan melanjutkan usaha kami di semua forum internasional guna mengakhiri pendudukan ini. Tentu juga untuk membangun Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota kami,” ungkapnya.

Sidang Majelis Umum tersebut merupakan sebuah upaya lanjutan yang mana dilakukan oleh negara-negara penentang dewa poker keputusan Trump yang dinilai sepihak tersebut.  Trump dinilai pro dengan Israel dan malah menganggung kestabilan daerah serta menjadi penghambat dari terciptanya kedamaian.

Upaya sebelumnya dilakukan di Dewan Keamanan PBB di hari Senin (18/12). Namun upaya itu pasalnya menemui jalan buntu. Hal ini dikarenakan AS menggunakan hak vetonya untuk bisa menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mana digagas oleh Mesir yang ingin menolak pengakuan sepihak yang dilakukan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota dari Israel.

Sebelumnya juga, Trump mengancam bakal memotong bantuan keuangan yang diberikan oleh Amerika kepada negara negara yang memberikan dukungan untuk resolusi Majelis Umum PBB itu. Akan tetapi nyatanya ancaman tersebut tak memberikan dampak sama sekali pada hasil Majelis Umum yang digelar kemarin.

Hak Veto AS atas Yerusalem dinilai Langgar Tradisi PBB

Ahmed Amr Ahmed Manned, Dubes Mesir untuk Indonesia menganggap bahwa hak veto yang digunakan Amerika Serikat untuk resolusi internasional yang menolak keputusan sepihak Trump sebagai tindakan yang menyalahi tradisi Dewan Keamanan PBB.

Ia menyampaikan alasannya karena biasanya negara anggota tak ikut serta dalam voting dalam masalah yang mana terkait dengan negara itu. Manned pun akhirnya mengecam veto yang dikeluarkan oleh AS pada resolusi tersebut. Ia juga menambahkan bahwa tak seharusnya Negeri Paman Sam itu tidak memiliki wewenang untuk memberikan suara apalagi menggunakan hak istimewanya sebagai anggota tetap dari Dewan Keamanan PBB.

“AS sebagai pihak yang mana menjadi objek resolusi itu sendiri. Dan semestinya tak memiliki hak untuk memberikan suara sesuai dengan peraturan dan juga ketentuan yang ada selama ini di PBB. Veto ini adalah sebuah pelanggaran karenanya patut untuk dipertanyakan mengapa AS dapat memberikan suara di dalam voting pada Dewan Keamanan PBB terkait resolusi ini,” ungkap Manned yang datang di jamuan makan malam yang dhelat di Kediaman Dubes Arab Saudi di Jakarta pada hari Rabu (20/12). Manned memahami bahwa sejauh ini PBB mempunyai aturan yang mana melarang negara anggota DK PBB ikut memberikan suara di dalam jejak pendapat atau voting tentang resolusi yang melibatkan negara itu.