Beri Miras ke Hewan, Dua Remaja Dihujat dan Dilaporkan Polisi

Dalam beberapa hari terakhir, warganet khususnya pengguna Instagram dihebohkan dengan video aksi dua orang pemuda dengan kelakuan tidak pantas saat berkunjung ke Taman Safari Indonesia (TSI) di Bogor. Terjadi pada Selasa (14/11) lalu, dalam video itu terlihat dua orang yang diketahui bernama Philip Biondi (27) dan Alyssa Dwi Fitri Amanda (25) memberikan minuman keras jenis anggur merah (amer) kepada seekor kuda nil.

 

Ada beberapa video yang diunggah sendiri oleh pelaku di Instastory mereka yakni @alyccaaa dan @philipbiondi. Di video pertama tampak seseorang hendak memberikan wortel ke rusa tapi malah mencoba memasukkan amer. Sementara di video kedua, seseorang menyemprotkan minuman dari dalam botol kaca berwarna merah ke dalam mulut seekor kuda nil yang tengah menganggap bertuliskan ‘jackpot’. Tak butuh waktu lama, tindakan bodoh Alyssa dan Biondi itu langsung berujung kecaman dari warganet.

 

Bersama kuasa hukum mereka, M Ali Nurdin di Bandung hari Sabtu (18/11) sore, mereka menjelaskan kalau kejadian itu terjadi saat mereka usai pulang dari Puncak, Cisarua. Untuk menghindari kemacetan, Alyssa dan Biondimemutuskan mampir ke TSI. Saat bertemu dengan kuda nil, Biondi yang ada di bangku dekat kaca mobil secara spontan langsung membuka amer dan melakukan aksinya.

 

Pelaku Menangis dan Jadi Sasaran Hujatan

 

Karena video aksi tak bertanggung jawab mereka yang terlanjur viral, Alyssa dan Biondi pun mendapatkan sanksi moral. Mereka mengaku memperoleh hujatan hingga teror yang membuat keduanya begitu stres dan merasa terancam, sampai ke keluarga mereka. Sambil menangis dan terbata-bata, Alyssa dan Biondi pun mengungkapkan rasa penyesalan dan permintaan maaf mereka.

 

“Ancamannya lebih dari medsos. Itu sudah sampai keluarga, papah, mamah, ade, saudara. Padahal ini masalah Ica, tidak perlu ke yang lain. Jujur buka handphone aja parno. karena ada yang nyebar nomor pribadi Ica. Sampai ada yang bilang bakal ngehabisin Ica kalau ketemu. Sampai ica nggak berani keluar rumah,” jelas Alyssa. Alyssa pun menjelaskan kalau akun Instagramnya kini sudah menghilang lantaran banyaknya laporan negatif dari warganet, bukannya dia sendiri yang menutup akun.

 

Berbeda dengan Alyssa, Biondi tampak lebih banyak diam dan beberapa kali menutup wajahnya. “Saya menyesal dan meminta maaf. Itu (beri minuman) hanya spontanitas saja, tidak ada niatan untuk menyakiti hewan. Saya juga sama terima teror. Kasihan keluarga terkena dampak.” Sebagai kuasa hukum, Nurdin menyebut kalau kliennya sudah siap menerima hukuman pidana atas tindakan tercela mereka. Menurutnya, Alyssa dan Biondi sudah menerima hujatan ribuan orang yang merupakan resiko togel online atas aksi tersebut.

 

TSI Laporkan Pelaku ke Kepolisian

 

Manajemen TSI sendiri memang mengecam aksi Alyssa dan Biondi. Setelah ramainya laporan dari warganet, mereka pun langsung melaporkan kejadian ini ke polisi. Hal ini diungkapkan TSI hari Rabu (15/11). Melalui Yulius Supriharjo selaku Humas TSI, pihak keamanan TSI sudah melaporkan kasus ini ke Polsek Cisarua untuk ditindaklanjuti secara hukum karena melanggar norma-norma animal welfare dan etik.

 

Sementara itu pihak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meminta agar polisi segera menangkap pelaku demi menimbulkan efek jera. Bambang Dahono selaku Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK menyebut kalau aksi Alyssa dan Biondi itu melanggar PP No 7 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 31 Tahun 2012 yang bisa membuat mereka terjerat pidana.

 

{ Add a Comment }

Terungkap, Pengacara Setnov Ternyata Pernah Gagal Jadi Pemimpin KPK

Pada Kamis (16/11) malam kemarin, perhatian publik kembali tersorot kepada Ketua DPR-RI, Setya Novanto alias Setnov. Tersangka korupsi mega proyek e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah itu mengalami kecelakaan tunggal saat hendak memenuhi panggilan KPK setelah beberapa kali mangkir hingga mendadak menghilang. Di tengah kekacauan, munculah pengacara Setnov yakni Fredrich Yunadi yang dianggap malah memperkeruh.

 

Sosok Fredrichsudah muncul saat KPK pertama kali menetapkan Setnov sebagai tersangka pada 17 Juli 2017, meskipun dirinya bisa bebas dari tudingan dengan misterius di praperadilan. Dan pada kasus kecelakaan Setnov kemarin, Fredrichmenjadi kelakar banyak orang karena berbagai pernyataan kontroversialnya. Di mana Fredrich sempat menyebut kalau mobil Toyota Fortuner yang dikendarai Setnov dalam kondisi hancur, rusak parah hingga adanya benjolan sebesar bakpao di kepala dan penuh darah Ketua Umum Partai Golkar itu.

 

Faktanya, mobil Setnov hanya mendapatkan kerusakan di bagian bumper depan dan bahkan ¾ bodi mobil masih mulus. Sementara benjolan bakpao sama sekali tak terlihat termasuk luka-luka memar di wajah lainnya. Tak heran kalau sosok Fredrich menjadi bahan lelucon di dunia maya. Bahkan saat publik mengkritisi perban dan infus Setnov yang janggal karena merupakan infus untuk bayi,Fredrich dengan santai berucap, “Ya boleh ajalah. Karena kan dia memang bayi. Dia tidur melulu, kagak pernah bangun.”

 

Penelusuran jejak karier Fredrich sebagai pengacara pun menguak fakta mengejutkan. Dilansir CNN Indonesia, Fredrich ternyata pernah mendaftar sebagai calon komisioner KPK pada tahun 2010. Saat seleksi calon pimpinan KPK periode 2010-2015, Fredrich lolos ke tahapan psikotes bersama 11 calon lainnya. Namun Fredrich gagal dan kemudian Busyro Muqqodas yang terpilih. Sudah jadi pengacara sejak tahun 1994, Fredrich pernah jadi kuasa hukum koruptor RJ Lino atas kasus dugaan korupsi Pelindo II.

 

Kritikan Ahli Hukum Untuk Fredrich Yunadi

 

Terbaru, Fredrich berencana melaporkan KPK ke pengadilan HAM internasional karena ikut serta dalam proses perawatan Setnov yang dipindahkan ke RSCM hari Jumat (17/11). Bahkan Fredrich menyebut kalau KPK tidak bisa memeriksa Setnov tanpa adanya izin Presiden Jokowi. Hal ini membuat ahli hukum pidana yakni Abdul Fickar Hadjar menuding Fredrichdengan dugaan melawan hukum.

 

Menurut Fickar, KPK yang harus meminta izin Presiden adalah hal yang melawan akal sehat karena soal izin itu gugur dengan Pasal 245 UU MD3 di mana ada pengecualian bagi tindak pidana khusus seperti korupsi, narkoba dan terorisme. Fickar juga menyindir Setnov yang dalam menghadapi proses hukum malah mengikuti nasihat pengacara, bukannya patuh pada hukum negara mengingat dirinya adalah pemimpin salah satu lembara tertinggi di Indonesia, seperti dilansir Detik.

 

Senada dengan Fickar, pakar hukum tata negara Prediksi bola yang juga mantan Ketua MK, Mahfud MD, malah menertawakan rencana Fredrich. Melalui cuitannya di Twitter, Mahfud menyebut bahwa pengadilan HAM internasional hanya akan mengadili Genosida dan kejahatan kemanusiaan, bukannya mengurusi kasus Setnov.

 

Tunggu Kesimpulan Dokter, Setnov Dibawa ke Rutan

 

Mengenai kondisi Setnov, rupanya sudah melakukan rangkaian pemeriksaaan MRI dan CT scan pada Jumat (17/11) malam.Untuk bisa menahan Setnov dan menggiringnya ke Rutan (Rumah Tahanan), KPK tinggal menunggu keputusan dokter. “Apakah masih dibutuhkan observasi dalam beberapa hari ke depan atau dapat dilakukan pemeriksaan dan penahanan lanjutan di rutan KPK, akan ditentukan kemudian,” jelas Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah hari Sabtu (18/11).

{ Add a Comment }